On Bovine, Billy, and Bra
SEJUMLAH nama fauna digunakan pejabat dan tokoh negeri ini untuk mempredikatkan pihak lain sejak bergulirnya skandal Century. Setelah duel antara cicak dan buaya serta pertarungan antara cumi-cumi vs gurita pada penghujung tahun 2009, kini giliran hewan ternak yang tampil, yaitu kerbau dan kambing. Tak mau kalah, ayam pun ikutan nampang…dan seakan masih belum cukup, (maaf) bra perempuan pun turut menjadi figuran. Saya akan mengulas satu2 tentang demo yg melibatkan hewan2 tersebut, in my humble opinion.
1. Kerbau SiBuYa
Hewan ternak pertama yang tampil di panggung demokrasi ini adalah seekor kerbau. Bukan sembarang kerbau, karena di punggung kerbau yang ikut di bundaran HI pada demo 100 hari pemerintahan SBY ini, tertulis “SiBuYa” dan di pantatnya, tertempel wajah bapak RI-1. Jelas, para demonstran seakan ingin menyamakan Bapak Presiden dengan kerbau: hewan yang malas, besar, dan bodoh.
SBY nampaknya merasa tersinggung dengan tingkah para pendemo ini, sehingga beliau “curhat” di depan rapat yang diikuti semua menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dan gubernur seluruh Indonesia di Istana Kepresidenan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (2/2/2010).
Memang perbuatan para demonstran yg menyertakan hewan dalam demonstrasi ini salah, karena dapat mengganggu lalu lintas, apalagi jika hewannya besar, seperti kerbau.Ditambah lagi, hewan ini dibawa untuk menyindir penguasa, karena kurang sesuai dengan nilai2 ketimuran. Namun alangkah elegannya jika respons terhadap “demo kerbau” itu didahului dengan langkah Pak SBY menyelesaikan skandal Century yang merugikan keuangan negara hingga Rp6,7 triliun, segera, hari ini juga. Rakyat sudah lama menunggu dan lelah. Pansus pun sudah jauh lebih lelah, tak bergairah.
Dan menurut pendapat penulis, seharusnya SBY bangga jika dianalogikan dengan kerbau. Dalam astrologi China, kerbau adalah lambang kehebatan dan keperkasaan. Terlebih lagi, kerbau adalah binatang yang sangat bermanfaat bagi manusia. Kerbau adalah hewan yang kuat sehingga dapat digunakan untuk membajak sawah. Daging kerbau dapat diolah menjadi hidangan yang lezat. Kerbau juga menghasilkan susu (dan dapat diolah menjadi produk2 lain, seperti keju atau dadih), yang selain rasanya enak, juga bergizi tinggi. Manfaat kerbau tidak cuma sampai di situ. Take a bow (baca: Tai kebo) dapat dipakai sebagai kompos untuk menyuburkan tanah. Kerbau juga binatang yang jinak, ramah, dan dapat bersahabat dengan tuannya. Sehingga, Pak SBY patut bersyukur, karena dengan diumpamakan sebagai kerbau, beliau didoakan agar menjadi pemimpin yang kuat, perkasa, bermanfaat bagi orang lain, dan dekat dengan rakyatnya!
2. Kambing
Belum usai euforia Kerbau SiBuYa, ada pula demo lain yang melibatkan binatang. Kali ini, hewan ternak yang dibawa adalah kambing dan ayam. Tak tanggung2, ada sepasang kambing yang mejeng. kambing berpostur besar ditulisi “Boediono Maling” dan dipasang topeng bergambar wajah Boediono di bagian tanduknya. Sedangkan kambing ukuran kecil ditulisi “Sri Mulyani Maling” dan topeng bergambar wajah Sri Mulyani.
Kambing itu diserahkan pendemo kepada staf Humas KPK, Priharsa, di lobi Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (5/2/2010) pukul 16.45 WIB.
Nah, simbol kambing yang dikenakan pada Pak Wapres dan Bu Menteri Keuangan menyiratkan bahwa mereka adalah kambing hitam dalam mega-kasus Century ini. They not the culprits, just scapegoats. Simbol kambing juga dapat diartikan sebagai pengorbanan. Ingat kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Nabi Ismail AS, di mana Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih puteranya yang beliau sayangi itu? Jika seandainya Allah SWT tidak menggantikan Nabi Ismail dengan kambing, tentu semua orang tua akan melaksanakan ibadah seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam! Naudzubillah…. Selain disakralkan dalam agama, kambing, layaknya sapi, juga bermanfaat bagi manusia. Daging kambing yang dibagi2kan saat idul qurban adalah lambang kesetiakawanan sosial untuk membantu saudara2 kita yang kurang beruntung. Dengan kata lain, analogi sebagai kambing menunjukkan bahwa Bapak Wapres dan Ibu Menteri didoakan agar menjadi pejabat negara yang rela berkorban, memberi manfaat, dan peduli terhadap rakyat kecil.
3. BH
Khusus ini, penulis sangat keberatan dengan polah para demonstran yang mengirimkan BH dan pakaian dalam perempuan ke Pansus Centruy, sebagai perlambang bahwa para anggota Pansus tidak jantan alias pengecut.
Ini adalah demo yang sangat mendiskreditkan perempuan, seolah menyatakan bahwa perempuan itu kalah berani dibandingkan kaum adam. Siapa coba yang berani menyediakan tubuhnya sebagai tempat kita tumbuh? Yang dengan perkasanya membawa2 kita yang semakin lama semakin berat selama 9 bulan 10 hari? Yang dengan gagahnya bersusah payah untuk membawa kita ke dunia, dari bagian tubuhnya yang teramat sempit, hingga mempertaruhkan nyawa? Para ibu bukan?!! Setelah kita lahir, ibu pun berjuang dengan susah payah untuk membesarkan kita. Atas perjuangan tersebut, para Ibu mendapat kedudukan yang tinggi dalam Al Qur’an dan Hadits, hingga tersebut bahwa surga di bawah telapak kaki ibu.
Dalam sejarah pun, banyak perempuan2 perkasa yang tak kalah beraninya dengan para kaum pria. Sebut saja Hua Mulan, Joanne d’ Arc, Cut Nya Dien, dll. Sehingga, tak layak perempuan disimbolkan dengan pengecut.
Maka, BH kiriman ini merupakan sesuatu yang tidak pantas.
Demikianlah pendapat penulis mengenai simbol2 yang meramaikan kancah demokrasi ini. Semoga euforia simbol2 yg melanda negeri ini dapat menjadi bahan pembelajaran untuk perkembangan demokrasi di Indonesia.

